Kasih Sayang

16 10 2008


Manusia hidup dunia ditakdirkan untuk saling cinta-dan mencintai, perbedaan sifat atau karakter itu yang kemudian seharusnya dijadikan sebagai bumbu penyedap rasa agar rasa cinta dan saling menyayangi terus melekat dalam pribadi seorang manusia. Kasih sayang akan terus terjaga apabila benar-benar dilakukan secara tulus dari dalam hati, bukan karena terpaksa ataupun kepe’pe’t.

Akan tetapi bisa juga terjadi apabila keadaan mengharuskan untuk mengasihi kemudian terbiasa dan akhirnya tercipta suasana yang harmonis.

Memang terkadang sesuatu hal yang baik itu harus melalui sesuatu hal yang dipaksakan sehingga menjadi sebuah kebiasaan dan kebiasaan tersebut harapannya menjadi lebih baik, walupun sebenarnya memang harus berawal dari kesadaran diri.

Manusia dimuka bumi ini akan damai, tentram, adil dan sejahtera apabila masyarakatnya bisa melengkapi kekurangan, memahami perbedaan serta menghindarkan diri dari sifat egosime yang berlebihan.

Suatu ketika ada sepasang suami istri yang telah memiliki dua orang putra, mengikuti acara perlombaan yang dilaksanakan oleh salah satu karang taruna di kota Sleman. Sebut saja bapak Mardi, beliau adalah seorang ketua RT (Rukun Tetangga) jadi wajar saja kalau beliau selalu tampil dalam kegiatan masyarakat. Begitu pula ketika acara yang diikuti oleh lebih dari seratus peserta tersebut tidak dilewatkan oleh beliau dengan isterinya, yaitu bu Mardi. “Mas-mas saya ikut lomba pindah klereng ya mas, saya sama isteri tercinta saya ya” kata pak Mardi…”Siap pak, akan kami daftar sebagai peserta lomba” kata mas panitia. Akhirnya perlombaan dimulai setelah terdapat lima pasang peserta, peluit panitia dibunyikan pertanda bahwa perlombaan dimulai. Para peserta berjalan sambil menggit sendok bebek yang diatasnya terdapat dua butir kelereng, ada yang pelan ada pula yang lambat, ada yang jatuh-jatuh melulu. Seperti pak anton (bukan nama sebenarnya), beliau salah satu peserta yang emosinan (mudah emosi), dari awal lomba beliau sudah memaksa isterinya untuk ikut lomba…”bune, ayo melu lomba, cepetan…hadiahe lumayan,..kalo dapat setrika kan bisa kamu jual to!”kata bapaknya kasar…”kan duitnya bisa buat beli rokok”..tambahnya… “emoh pak(ga mau)..cari temen lainya aja”kata si isteri. “Pokoke harus ikut” kata si bapak sambil maksa.

Dalam perlombaan yang terlihat kalem tapi pasti adalah pak RT atau pak Mardi, beliau mengajak isterinya bukan atas dasar paksaan tetapi memang ingin melepas kejenuhan setelah seharian bekerja sebagai pengawas mesin di sebuah peusahaan textil ternama di daerah itu. Sesekali kelereng yang dibawa oleh pak mardi jatuh, ketika mau dipindahkan ke sendoknya bu mardi sempat kelerengnya jatuh, namun dengan penuh kesabaran akhirnya kelereng berhasil dipindahkan dan bu mardi pun melewati lintasan untuk meneruskan pertandingan.

Beda dengan pak anton yang orangnya grusah-grusuh atau tergesa-gesa, karena pengin menjadi pemenang tapi tanpa kesabaran dan rasa sayang sama isterinya, beliau membentak isterinya untuk segera berada diposisi arena biar kelereng segera bisa dipindahkan..ya terang saja sendok bebek dan kelereng-kelerengnya jatuh berhamburan di rerumputan…”Wah piye ki…”kata si bapak… “lha bapak ki piye…” kata si ibu. Sampai terdapat pemenang lomba, sepasang suami isteri itu masih rebut tanpa ada rasa malu terhadap para tetangganya.

Dan pak mardi serta isterinya, walau tidak keluar sebagai juara beliau tetap masih bisa bergembira…”ibu kalau jalan sambil bawa kelereng manis dan lucu dech…” ledek pak mardi…”nah itu yang menyebabkan ibu ga bisa jalan cepet coz diliatin sama bapak sich kan jadinya GeeR…”timpal bu mardi. Mereka tertawa bahagia bersama.

Itu kenapa Tuhan kita menciptakan secara berpasang-pasangan: ada langit ada bumi, ada malam ada siang, ada hitam ada putih… Jawabanya agar menarik, agar tercipta dinamika kehidupan sehingga kehidupan ini menjadi lebih hidup serta saling menyayangi.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.